Surabaya -|| Di sudut panas nya Terang matahari bersinar, Jl. Kapasari, Kecamatan, Genteng. Surabaya, Seorang penjual barang bekas duduk dengan wajah lesu, memandangi tumpukan barang dagangannya yang terletak di tanah. Ia adalah salah satu dari Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjadi korban penertiban Satpol PP Kota Surabaya. Hari itu, ia kembali harus menghadapi kenyataan pahit ketika Satpol PP menyita dagangannya karena dianggap mengganggu ketertiban umum.
"Bagaimana kami bisa hidup jika tidak boleh berjualan di sini?" keluh pria itu, sambil memandang dan Bercerita terhadap Awak media Dtikinformasi.com bercerita tentang Satpol PP yang sibuk menertibkan area tersebut. "Kami hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga, bukan untuk mengganggu orang lain." Suara pria itu terpotong oleh isak sedih, menggambarkan betapa sulitnya hidup di tengah-tengah penertiban yang seolah-olah tidak berpihak pada rakyat kecil.
Penertiban PKL di Kapasari ini merupakan bagian dari program penataan kota yang digulirkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Namun, bagi PKL, program tersebut terasa seperti mimpi buruk. Mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk Bertahan hidup dan tidak diberi ruang untuk mencari nafkah apalagi sebentar lagi ini menjelang ramadhan pak "Kami hanya ingin makan sehari-hari, bukan untuk menjadi kaya," kata pria itu dengan nada yang penuh kesedihan.
Kisah PKL Kapasari ini menjadi cermin bagi kita semua tentang betapa sulitnya hidup di bawah tekanan ekonomi seperti saat ini apalagi ada penertiban. Apakah kita akan terus membiarkan rakyat kecil ini terpuruk?..
Kita harus ingat, penertiban tidak harus berarti Mengambil pak karena kita jualan terkadang dapat pinjaman untuk buat modal pak, Mari kita menata kota dengan lebih manusiawi, dengan mempertimbangkan kebutuhan rakyat kecil (PKL) Mari kita jadikan Surabaya sebagai kota yang lebih adil dan sejahtera bagi semua warganya."Ungkapnya.
(SR)
dibaca
Posting Komentar