Sampang -|| Seperti embun yang menyegarkan hamparan tanah yang tandus, begitu pula kasih sayang yang mengalir dari hati seorang putra daerah kepada tanah kelahirannya. Pada hari Sabtu, 6 Februari 2026, nama Dusun Ban-Baban Desa Astapah Kecamatan Omben Kabupaten Sampang menjadi sorotan, bukan karena hal lain melainkan karena sebuah karya mulia yang menghubungkan bukan hanya jalur tanah, melainkan juga hati warga yang selama ini terhalang oleh jalan rusak yang tak berkesudahan.
"Tanah air kecil adalah surga yang kita tinggali, jika jalanannya rusak, surga itu pun terasa jauh," demikian mungkin yang terlintas dalam pikiran H. Jamal, sosok pengusaha besi tua yang telah merantau dan membangun usaha di Surabaya. Dengan tangan yang dermawan dan hati yang penuh cinta, ia meresmikan jalan sepanjang kurang lebih delapan kilometer yang dibangun dengan dana pribadi senilai Rp2 miliar, dibarengi dengan dukungan gotong royong dari warga sekitar yang tidak sabar melihat perubahan datang.
Aksi mulia ini segera menyebar seperti angin yang membawa berita harum di media sosial, meraih perhatian dan apresiasi dari berbagai penjuru. Jalan desa yang selama puluhan tahun menganga dengan lubang-lubang dalam dan permukaan yang bergelombang, kini telah berubah wajah menjadi hamparan aspal mulus yang siap menyambut setiap langkah dan roda kendaraan yang melintas.
Kondisi yang pernah menghambat segala aktivitas warga menjadi pijakan kuat bagi niat baiknya. Jalan yang rusak bertahun-tahun bukan hanya menghalangi pergerakan fisik, melainkan juga menghambat roda kehidupan yang ada di sana – dari pedagang yang kesulitan mengangkut hasil dagang, hingga anak-anak yang harus berjalan jauh melewati jalan berlumpur untuk mencapai sekolah, dan keluarga yang tergesa-gesa mencari bantuan kesehatan namun terhalang oleh kondisi jalan yang memprihatinkan.
"Tak ada kemakmuran jika kita terkurung oleh jalan yang rusak," ujar beliau dengan suara yang penuh keyakinan, ketika ditemui bersama tokoh masyarakat Bapak Mursidi. "Pembangunan jalan ini saya persembahkan untuk masyarakat," tambahnya dengan senyum hangat, di mana panggilan akrab "Aba Jamal" sudah begitu melekat di hati setiap warga yang mengenalnya.
Meski sukses meraih kemakmuran di perantauan, rasa cinta kepada kampung halaman tak pernah pudar dari dalam dirinya. Seperti pohon yang akarnya tetap menancap di tanah kelahirannya meskipun tajuknya telah menjulang tinggi ke langit, H. Jamal menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraih bukanlah untuk disimpan sendiri, melainkan untuk kembali memberi manfaat pada tempat yang telah membentuk dirinya menjadi apa adanya hari ini.
Langkah inspiratif yang diambil Aba Jamal mendapatkan apresiasi yang setinggi langit dari seluruh elemen masyarakat. Bapak Mursidi, sebagai tokoh masyarakat Dusun Ban-Baban, menyampaikan bahwa apa yang dilakukan adalah wujud nyata semangat gotong royong yang kian langka di zaman sekarang. "Ini adalah teladan yang baik dan patut diapresiasi," ujarnya dengan penuh penghargaan. "Kontribusi seperti ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap daerah asal dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat."
Proses pemavingan yang memakan waktu kurang lebih tiga bulan telah menemukan titik terang dengan keberhasilan yang memukau. Untuk merayakan momen bahagia ini, H. Jamal akan menggelar acara syukuran sekaligus peresmian resmi yang diharapkan akan dihadiri oleh ratusan warga dan para pemangku wilayah, sebagai bentuk rasa syukur atas terwujudnya impian bersama yang telah lama dinanti-nantikan.
Dengan mata yang penuh harapan, ia menyampaikan keinginannya agar jalan baru ini dapat menjadi ujung tombak kemajuan bagi Desa Astapah, khususnya Dusun Ban-Baban dan wilayah sekitarnya. Ia berharap, aliran barang dan jasa akan semakin lancar, peluang ekonomi akan semakin terbuka lebar, dan kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat seiring dengan kelancaran akses yang kini mereka miliki.
Tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, Aba Jamal juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga tali persaudaraan yang erat dan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi jiwa masyarakat Madura. "Jalan sudah saya berikan, namun penjagaan dan pengembangannya adalah tanggung jawab kita bersama," demikian pesannya yang penuh makna bagi setiap warga.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa kemajuan tidak selalu harus datang dari tangan pemerintah saja. Kadang kala, sebuah kontribusi dari hati yang peduli mampu menciptakan perubahan besar yang menyentuh jiwa dan mengubah nasib sebuah daerah – semata-mata karena keinginan tulus untuk membantu sesama yang selama ini terpinggirkan oleh kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.
( Haikal/Saladin )
dibaca
Posting Komentar