Sampang - dtikinformasi Com – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Sampang di tandai dengan Kritikan pedas terhadap kuli tinta yang ada di Sampang, momentum ini menjadi panggung kritik tajam terhadap potret buram profesionalisme media lokal yang dinilai sedang mengalami degradasi moral dan krisis identitas yang akut.
Fathur Rahman Penasehat PWI Sampang sekaligus Ketua Media Center Sampang (MCS), panggilan akrabnya (Mamang), melontarkan kritik pedas dalam forum resmi di Aula Pemerintah Kabupaten Sampang,(Pemkab)Ia menyebut wajah pers saat ini, khususnya di Sampang, telah melenceng jauh dari khitah asalnya sebagai kontrol sosial.
Dalam rapat koordinasi persiapan Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H tersebut, Mamang secara lantang mengingatkan para pemangku kebijakan dan insan pers agar tidak terjebak dalam hubungan transaksional yang dangkal.
"Jangan sampai pers hanya dihargai saat dibutuhkan saja, seperti halnya pemadam kebakaran. Dibutuhkan untuk memadamkan isu, lalu dikesampingkan saat kepentingan usai," tegas Mamang,
di hadapan peserta rapat.
Kritik Pedas: Modal Berani dan Penampilan Menarik Saja Tidak Cukup
Mamang, yang telah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak 2008, menyoroti fenomena miris di mana profesi wartawan seolah menjadi "pelarian pekerjaan". Ia menyentil banyaknya oknum yang terjun ke lapangan hanya berbekal keberanian bicara dan penampilan, namun nihil wawasan serta buta terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Dampak rendahnya standar kompetensi ini menurut Mamang.
Hilangnya marwah: Pers mudah dikooptasi oleh kepentingan sektoral.
Rendahnya Posisi Tawar: Jurnalis tidak lagi disegani karena integritas, melainkan hanya dianggap instrumen pelengkap.
Pelanggaran Tupoksi, Bukannya mengontrol kekuasaan, banyak oknum pers justru terlibat dalam pusaran masalah.
Lebih lanjut, Mamang menegaskan bahwa peningkatan kapasitas melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan penguatan literasi bukan lagi pilihan, melainkan harga mati. Tanpa idealisme, berita hanya akan menjadi alat propaganda yang kehilangan ruh kebenaran.
"Hanya dengan profesionalisme yang mumpuni, pers akan kembali dihormati. Bukan karena ditakuti atau dibutuhkan secara transaksional, tapi karena perannya dalam menjaga keadilan," pungkasnya.
Hari Pres Nasional (HPN ) 2026 di Sampang kali ini menjadi pengingat pahitnya jika pers tidak segera berbenah dan membersihkan diri dari oknum yang merusak marwah profesi, maka kepercayaan publik akan terkubur selamanya. (Sal)
dibaca
Posting Komentar